Catatan dari Capacity Building 2-3 Februari 2026
Oleh: Tim Capacity Building
Wonosobo, 2026. Dalam kegiatan capacity building internal, Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan untuk melihat kembali peran mereka, bukan sekadar sebagai pelaksana rutinitas kampus, tetapi sebagai bagian penting dari ekosistem yang menyiapkan sumber daya manusia profesional Indonesia.
Menurut beliau, tantangan pendidikan vokasi ke depan tidak lagi cukup dijawab dengan kurikulum dan fasilitas semata. Yang jauh lebih menentukan adalah budaya kerja sehari-hari: bagaimana dosen berinteraksi dengan mahasiswa, bagaimana tenaga kependidikan melayani, dan bagaimana seluruh unsur di Sekolah Vokasi bekerja sebagai satu tim.
Dalam suasana santai namun reflektif, Dekan menyampaikan lima budaya sederhana yang dapat langsung dipraktikkan tanpa menunggu kebijakan baru, tanpa anggaran tambahan, dan tanpa prosedur yang rumit. Lima budaya ini diyakini mampu mengubah pengalaman mahasiswa selama belajar di Sekolah Vokasi.
- Respons Cepat
Mahasiswa sering kali tidak menuntut jawaban yang langsung tuntas. Mereka hanya ingin merasa didengar dan diperhatikan. Membalas pesan dalam 1×24 jam, meskipun baru sebatas konfirmasi “sedang kami cek”, sudah memberikan ketenangan bagi mereka.
“Mahasiswa tidak menuntut langsung selesai, mereka hanya ingin merasa diperhatikan.”
- Tidak Menyulitkan
Sering kali mahasiswa harus bolak-balik hanya karena informasi persyaratan diberikan bertahap. Dekan mengajak seluruh sivitas untuk membiasakan diri menyampaikan semua kebutuhan di awal, serta membantu mahasiswa menyelesaikan urusan dalam satu kali datang.
“Kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit?”
- Komunikasi Ramah
Nada bicara, ekspresi wajah, dan cara menyambut mahasiswa sering kali lebih diingat daripada isi percakapan itu sendiri. Senyum, sapa, dan kesediaan mendengar menjadi bagian penting dari mutu pelayanan pendidikan.
“Nada bicara kita sering lebih diingat daripada isi jawaban kita.”
- Solutif, Bukan Prosedural
Menjelaskan aturan memang penting, namun berhenti pada kalimat “sesuai aturan tidak bisa” bukanlah akhir dari pelayanan. Selalu ada alternatif yang bisa ditawarkan, atau setidaknya arahan yang jelas bagi mahasiswa.
“Mahasiswa datang membawa masalah, jangan pulang membawa kebingungan.”
- Kerja sebagai Tim, Bukan Unit
Bagi mahasiswa, tidak ada istilah bagian akademik, keuangan, atau kemahasiswaan. Yang mereka kenal hanyalah Sekolah Vokasi. Karena itu, kolaborasi lintas bagian dan kebiasaan saling membantu menjadi kunci pengalaman pelayanan yang baik.
“Bagi mahasiswa, kita ini satu: Sekolah Vokasi. Bukan banyak ruangan.”
Penutup: Perubahan yang Bisa Dimulai Hari Ini
Dekan menegaskan bahwa kelima budaya ini tidak memerlukan rapat, tidak memerlukan surat keputusan, dan tidak memerlukan anggaran. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran dan kemauan untuk memperbaiki cara bekerja sehari-hari.
Perubahan kecil dalam respons, cara berbicara, dan cara melayani diyakini akan berdampak besar pada kepercayaan diri lulusan Sekolah Vokasi saat terjun ke dunia kerja.
“Suatu hari nanti, alumni kita akan berkata: saya bisa seperti ini karena dulu dosen dan tenaga kependidikan di Sekolah Vokasi Undip luar biasa.”
*Ilustrasi ini menggambarkan lima budaya sederhana yang menjadi kunci peningkatan mutu pelayanan di Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro: respons cepat, tidak menyulitkan, komunikasi ramah, solutif bukan prosedural, serta kerja sebagai tim. Nilai-nilai ini tidak memerlukan kebijakan baru, tetapi cukup dimulai dari perubahan kecil dalam sikap dan cara bekerja sehari-hari oleh dosen dan tenaga kependidikan demi menghadirkan pengalaman belajar terbaik bagi mahasiswa.