Wali Kota Semarang Apresiasi Merchandise Kandri, Hasil Kolaborasi Vokasi Undip dan Desa Wisata

Semarang — Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, S.S., M.M., memberikan dukungan penuh terhadap penguatan desa wisata saat menghadiri Jambore Pokdarwis 2025 di Taman Sleko, Kota Lama Semarang, Sabtu (22/6). Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah merchandise hasil kolaborasi Sekolah Vokasi Undip dan Desa Wisata Kandri yang dinilai mampu memperkuat identitas desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Merchandise tersebut tidak hanya mendapat apresiasi, tetapi juga menginspirasi Wali Kota untuk mengembangkan produk serupa bertema Kota Semarang. “Bu Wali Kota sangat antusias dan mengapresiasi merchandise tersebut. Ini menginspirasi beliau untuk menciptakan merchandise berupa tas dengan tema brand identity Kota Semarang yang nantinya akan menjadi buah tangan bagi tamu kehormatan yang berkunjung ke Semarang,” ujar Fatkhan Ainurudi, Seksi Daya Tarik Wisata dan Kenangan Pokdarwis Pandanaran.

Atas kualitas desain dan karakter budayanya, Wali Kota bahkan meminta merchandise khusus yang menonjolkan branding Kota Semarang untuk dibawa sebagai cinderamata resmi dalam kunjungannya ke mancanegara. Hal ini sekaligus memperluas promosi Kota Semarang di tingkat internasional melalui pendekatan ekonomi kreatif.

Kolaborasi antara Vokasi Undip dan Desa Wisata Kandri sendiri telah berlangsung sejak 2021 sebagai bagian dari upaya pemulihan pariwisata pascapandemi. Program Studi Informasi dan Humas Vokasi Undip terus melakukan pendampingan melalui penguatan brand identity, produksi konten visual, hingga pelatihan digital branding bagi masyarakat setempat.

Tahun ini, tim pengabdian yang diketuai Nur Laili Mardhiyani, S.I.Kom., M.I.Kom., berfokus pada pengembangan merchandise kit yang mencerminkan identitas budaya Kandri. Produk yang dipamerkan di Jambore Pokdarwis meliputi tote bag bergambar ikon budaya Kandri, tumbler bertema Nyadran Kali, payung berlogo “Kandri WAE”, serta notebook dengan ilustrasi Gapura Sendang Gede.

Nur Laili menjelaskan bahwa merchandise menjadi kebutuhan penting dalam memperkuat citra desa di mata stakeholder. “Kami ingin tamu yang datang membawa pulang bukan hanya pengalaman, tetapi juga representasi visual dari Desa Wisata Kandri,” ujarnya.

Berbagai bentuk pendampingan sebelumnya mencakup pelatihan penulisan pariwisata, pembuatan kalender konten, katalog budaya, fotografi UMKM, hingga materi promosi digital, yang terbukti membantu memperkuat eksistensi Kandri di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dengan apresiasi Wali Kota dan rencana membawa merchandise lokal hingga ke mancanegara, inovasi Desa Wisata Kandri kini mendapat panggung yang lebih luas. Kolaborasi akademisi, pemerintah, dan masyarakat pun terbukti menjadi kunci penguatan daya saing desa wisata dan promosi budaya Semarang ke kancah internasional.