Kisah Sukses Adhi Mursito: Dari Ketekunan Belajar hingga Membangun Perusahaan Kimia Nasional

Semarang,  5 Oktober 2025— Perjalanan karier Adhi Mursito, alumnus yang kini menjadi pemilik PT Star Specialty Chemicals Indonesia, merupakan contoh jelas bagaimana keberanian belajar dan kemauan untuk terus berkembang dapat mengantarkan seseorang menuju puncak kesuksesan. Perusahaan yang ia dirikan pada 28 Maret 2009 dan tercatat dalam Akta Pendirian No. 84 itu kini dikenal sebagai pemain penting dalam perdagangan bahan kimia khusus di Indonesia.

Kesuksesan Adhi Mursito tidak lahir dalam semalam. Sejak di bangku kuliah, ia sudah terbiasa mendorong dirinya untuk memahami materi secara mendalam dan aplikatif. Mata kuliah terkait teknologi kimia, manajemen industri, hingga pengolahan air menjadi fondasi awal yang membentuk pemahamannya terhadap dunia proses dan manufaktur. Namun, Adhi menegaskan bahwa pendidikan formal hanyalah pijakan awal—karier yang kuat membutuhkan kemauan untuk terus belajar di luar kelas.

Ketekunan itu dibawanya ke dunia kerja. Ia memulai perjalanan profesionalnya di berbagai perusahaan—mulai dari perusahaan lokal hingga perusahaan multinasional Jepang, Korea, dan Tiongkok. Setiap perpindahan bukan sekadar lompat karier, tetapi bagian dari strategi untuk memperkaya ilmu. “Bekerja itu belajar. Jangan hanya melihat satu sisi. Cari pengalaman, pahami kebijakan, dan jangan takut pindah untuk belajar hal baru,” ujarnya. Pola pikir inilah yang membawanya mencapai target besar: menjadi kepala pabrik sebelum usia 40 tahun, meski harus memimpin tim dengan anggota dari kampus besar seperti ITB, UGM, dan Undip.

Pengalaman panjang itu menjadi modalnya saat membangun PT Star Specialty Chemicals Indonesia, perusahaan yang kini melayani beragam sektor industri mulai dari tekstil, pulp & paper, minyak dan pertambangan, hingga pengolahan air dan pembangkit listrik. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan ini berkembang dengan mengusung nilai profesionalisme, ketepatan waktu, standar kualitas tinggi, serta komitmen terhadap keselamatan dan kepuasan pelanggan. Visi untuk menjadi produsen bahan kimia nasional terbaik bukan sekadar slogan, tetapi diwujudkan melalui konsistensi dalam memperkuat kepercayaan konsumen dan mitra kerja.

Perjalanan panjang penuh pembelajaran itu membuat Ade memahami betapa pentingnya kesiapan kompetensi bagi generasi muda. Karena itu, ia menekankan bahwa mahasiswa harus mulai membekali diri dengan skill relevan sejak dini—mulai dari penguasaan bahasa asing, literasi IT, hingga kemampuan membangun relasi profesional. Baginya, ketiga hal ini merupakan syarat mutlak untuk menghadapi persaingan global. Relasi yang luas dan manajemen komunikasi yang baik disebutnya sebagai “modal tak ternilai” untuk membuka peluang karier.

Dalam sesi berbagi pengalaman tersebut, Adhi juga menyoroti tantangan besar generasi Z: rasa takut gagal. Ia mengingatkan bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian penting dalam proses pembentukan mental. “Saya sendiri baru menjadi manajer di usia 38 setelah mengalami banyak kegagalan. Masa muda adalah waktu terbaik untuk mencoba sebanyak mungkin,” katanya. Menurutnya, seseorang perlu punya target usia, perencanaan karier yang matang, serta disiplin yang lebih besar dibanding orang lain. “Kalau orang lain belajar dan bekerja 8 jam, kita harus 10 jam,” tegasnya.

Pesan Adhi Mursito untuk mahasiswa dan lulusan baru sangat jelas: berfokuslah pada tujuan, bangun relasi, terus belajar, dan jangan pernah berhenti menyusun strategi untuk langkah berikutnya. Kisah suksesnya menunjukkan bahwa kesuksesan bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga keberanian mengambil keputusan, kesiapan menghadapi kegagalan, dan komitmen untuk terus belajar sepanjang hidup.

Melalui perjalanan hidupnya, Adhi Mursito membuktikan bahwa ketekunan dan mental pantang menyerah dapat membawa seseorang melampaui batas—dari seorang pembelajar hingga menjadi pemimpin perusahaan nasional di industri strategis. Sebuah teladan bagi generasi muda untuk berani bermimpi dan bekerja keras mewujudkannya. //(Yusuf MFA)